Newsletter #27

Our students continued to have cross-training at Nihi Sumba eco resort throughout March.  Our Sixth Group included Maria (Spa), Tomi (Culinary), Okta (Front Office), Lius (R&B), Ari (R&B), and Marsel (Housekeeping) and began this vital training in the last week of February through the first week of March.  This was followed by the Seventh Group: Alex (R&B), Fista (Spa), Hans (Culinary), Mada (Housekeeping), James (Culinary), and Helda (Front Office).  And our Eighth Group followed the last week in March and included: Erlin (R&B), Angel (Front Office), Arsya (R&B), Udis (Housekeeping), and Nika (Culinary), who will return in early April.  We are so proud of our students.  They return from their Nihi cross-training experience more mature, directed, professional and poised.  We are so pleased to have this collaboration with the world-class eco resort, Nihi Sumba.

Siswa/i kami terus melakukan pelatihan silang di resor ramah lingkungan, Nihi Sumba sepanjang bulan Maret. Grup Keenam kami termasuk Maria (Spa), Tomi (Kuliner), Okta (Front Office), Lius (R&B), Ari (R&B), dan Marsel (Housekeeping) memulai pelatihan penting ini pada minggu terakhir Februari hingga minggu pertama Maret. Lalu diikuti oleh Grup Ketujuh: Alex (R&B), Fista (Spa), Hans (Kuliner), Mada (Housekeeping), James (Culinary), dan Helda (Front Office). Dan Grup Kedelapan kami mengikuti di minggu terakhir di bulan Maret termasuk: Erlin (R&B), Angel (Front Office), Arsya (R&B), Udis (Housekeeping), dan Nika (Kuliner) yang akan kembali pada awal bulan April. Kami sangat bangga dengan siswa/i kami. Selepas kembali dari pengalaman pelatihan silang Nihi, mereka lebih matang, terarah, profesional, dan tenang. Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan resor ramah lingkungan kelas dunia, Nihi Sumba.

We often receive many special guests (in fact, all our guests are special!) but it was an honor to receive the Governor of the East Nusa Tenggara, Nusa Tenggara Timur (NTT) Province at the Sumba Hospitality Foundation. The students and staff were so pleased to host these honored guests. Not only are the SHF Hotel School and  Maringi Eco Resort becoming popular all over the island of Sumba but also throughout the entire NTT Province. We could not be more pleased!

Kami sering menerima banyak tamu-tamu istimewa (bahkan semua tamu-tamu kami istimewa!) Tetapi merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk menyambut Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Yayasan Sumba Hospitality. Para siswa/i dan staf sangat senang menjamu para tamu terhormat ini. Tidak hanya Yayasan Sumba Hospitality dan Maringi Eco Resort menjadi populer di seluruh Pulau Sumba tetapi juga di seluruh Provinsi NTT. Kami tidak bisa lebih senang!

SHF’s recruitment of Cohort 4 commenced at the beginning of this year. This is an important and extensive process.  Many information sessions were held throughout the four regions of Sumba in January and February.  We received over 500+ applicants and these students were required to take a written test which included motivation essays and logic, math, and English questions.  Over 290+ candidates were invited to campus for interviews which consistent of a 15-minute personal interview and a five-minute interview in English. The 60 candidates selected will proceed through the final two stages: medical clearance and home visit over the next few weeks. We are looking forward to finalizing this fourth Cohort and having an amazing group of 60 new students starting their SHF journey in June.

Penerimaan angkatan ke 4 Yayasan Sumba Hospitality dimulai pada awal tahun ini. Ini adalah proses yang penting dan luas. Banyak sesi informasi diadakan di seluruh empat kabupaten Sumba pada bulan Januari dan Februari. Kami telah menerima lebih dari 500 pelamar dan siswa/i ini diharuskan mengikuti tes tertulis yang mencakup esai mengenai motivasi dan logika, matematika, dan pertanyaan bahasa Inggris. Lebih dari 290 kandidat diundang ke kampus untuk sesi wawancara yang konsisten dengan wawancara pribadi selama 15 menit dan wawancara dalam bahasa Inggris  selama 5 menit. 60 kandidat yang dipilih akan melanjutkan dua tahap terakhir: ijin medis dan kunjungan rumah selama beberapa minggu ke depan. Kami berharap dapat menyelesaikan angkatan ke 4 ini dan memiliki 60 siswa/i baru yang luar biasa memulai perjalanan mereka di Yayasan Sumba Hospitality pada bulan Juni.

SHF continues to collaborate with many local partners to ensure a sustainable approach to tourism in Sumba.  Recently, SHF hosted the www.sumbatourism.id website launch event on campus.  The website was designed by Drife and is sponsored by the William & Lily Foundation. The information on the website will grow over time and includes the ability to assist tourist in locating tour guides and other information in all 4 Regencies of Sumba.  This event is part of our Sustainable Tourism Roadmap Initiative.  Check it out!

Yayasan Sumba Hospitality terus bekerja sama dengan banyak mitra lokal untuk memastikan pendekatan berkelanjutan untuk pariwisata di Sumba. Baru-baru ini, YSH menjadi tuan rumah atas acara peluncuran situs website www.sumbatourism.id di kampus. Situs website ini dirancang oleh Drife dan disponsori oleh Yayasan William & Lily. Informasi di situs website ini akan bertambah seiring berjalannya waktu dan mencakup kemampuan untuk membantu wisatawan dalam menemukan pemandu wisata dan informasi lainnya di 4 Kabupaten Sumba. Acara ini merupakan bagian dari Prakarsa Peta Jalan Pariwisata Berkelanjutan kami. Coba lihat!

Also this month, we welcomed members from the General Election Commission of Southwest Sumba Regency to encourage our students to vote absentee in the upcoming 17 April 2019 Presidential Election.  Commission members gave our students information on how to properly complete their absentee ballot and encouraged them to participate in this democratic process.

Juga pada bulan ini, kami menyambut anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sumba Barat Daya untuk mendorong siswa/i kami untuk memilih dalam Pemilihan Presiden 17 April 2019 mendatang. Anggota komisi memberikan informasi kepada siswa/i kami tentang cara memilih yang benar dengan kartu mereka dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi ini.

Staff and students recently had the opportunity to experience the traditional Pasola Festival which is most popular in Southwest and West Sumba Regencies.  It was quite an unforgettable cultural experience. The Pasola Festival is held annually between the months of February and March and is held in several places in West and Southwest Sumba. The event is a competition of skill and strength between two teams of horseback riders (of course, riding bareback) wearing amazing traditional dress (as were their horses) and toting long spears (now with blunt ends, but in earlier days, the real thing). Despite the bluntness of the spears, blood was drawn. According to legend, Pasola originated when a beautiful woman in a village in Southern Sumba remarried her new lover from a village in Western Sumba because she believed that her husband had died in the ocean when he went fishing for an extended period. Eventually, her husband returned and a war between these two tribes could not be avoided.  In an attempt to the end the conflict, the woman chose to sacrifice herself by jumping into the ocean.  When she jumped into the ocean she transformed into “Nyale” (a sea worm) that often emerges in the soil today and determines the dates when Pasola will be held each year. For the Sumbanese people, Pasola is part of the local religious belief called Marapu. In this faith, Pasola is held to thank their ancestors for a successful harvest and ensuring future prosperous rice harvests. The human and horse shed blood during Pasola is believed to be a symbol of fertility and also commemorates the bond of brotherhood between tribes that formed as a result of the sacrifice. It was a wonderful cultural experience for our staff and students.

Staf dan siswa/i baru-baru ini berkesempatan untuk menghadiri Festival Pasola tradisional yang paling populer di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. Ini merupakan pengalaman budaya yang tak terlupakan. Festival Pasola diadakan setiap tahun antara bulan Februari dan Maret dan diadakan di beberapa tempat di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Acara ini adalah kompetisi keterampilan dan kekuatan antara dua tim penunggang kuda (tentu saja, mengendarai tanpa pelana) mengenakan pakaian tradisional yang menakjubkan (seperti juga kuda mereka) dan membawa tombak panjang (sekarang dengan ujung tumpul, tetapi pada hari-hari sebelumnya, hal yang nyata ). Meskipun tombaknya tumpul, darah diambil. Menurut legenda, Pasola berasal ketika seorang wanita cantik di sebuah desa di Sumba Selatan menikah lagi dengan kekasih barunya dari sebuah desa di Sumba Barat karena dia percaya bahwa suaminya telah meninggal di laut ketika dia pergi memancing untuk waktu yang lama. Akhirnya, suaminya kembali dan perang antara kedua suku ini tidak bisa dihindari. Dalam upaya untuk mengakhiri konflik, wanita itu memilih untuk mengorbankan dirinya dengan melompat ke laut. Ketika dia melompat ke laut dia berubah menjadi “Nyale” (cacing laut) yang sering muncul di tanah hari ini dan menentukan tanggal kapan Pasola akan diadakan setiap tahun. Bagi orang Sumba, Pasola adalah bagian dari kepercayaan agama lokal yang disebut Marapu. Dalam keyakinan ini, Pasola diadakan untuk berterima kasih kepada leluhur mereka atas panen yang sukses dan memastikan panen padi yang makmur di masa depan. Manusia dan kuda yang menumpahkan darah selama Pasola diyakini sebagai simbol kesuburan dan juga memperingati ikatan persaudaraan antara suku-suku yang terbentuk sebagai hasil dari pengorbanan. Ini adalah pengalaman budaya yang luar biasa bagi staf dan siswa/i kami.

Watch our amazing founder inspire at TEDx Hotelschool The Hague! The team at SHF is so proud to have come so far through Inge’s vision and hope to be able to help the people of Sumba for many more years.